Sonntag, 3. Mai 2015

SUATU HARI DI BAWAH LANGIT ANDALUS

Hari ini jum'at 12 Rajab 1436 H. Tahukah anda bahwa 956 tahun yang lalu tepat di hari dan tanggal yang sama, di tahun 479 H terjadi peperangan yang besar antara pasukan Islam dan pasukan Salibis di bumi Andalus. Iya, Perang tersebut dikenal dengan Perang Zallaqah. Perang penentu yang kemudian menjadi sebab bertahannya islam di Andalus lebih dari 250 tahun kemudian.
Sebelum perang Zallaqoh, eksistensi islam di Spanyol benar-benar berada diambang kehancuran. Perang saudara yang menyebabkan pecahnya kekuatan islam dalam kerajaan-kerajaan kecil membuat keadaan semakin genting. Ditengah perselisian yang terjadi antara kelompok tersebut, Raja Alfonso VI bersama pasukan Salibis telah berhasil meruntuhkan satu persatu benteng kaum muslim dari utara Spanyol. Kondisi ini mendorong para pemimpin islam di selatan Andalus menyudahi perselisihan yang selama ini terjadi. Mereka sepakat meminta bantuan kepada Yusuf bin Tasyfin pemimpin Daulah Ar-Murabithin yang saat itu berpusat di Maroko. Ibnu Tasyfin yang telah berusia 79 tahun segera memenuhi panggilan jihad tersebut. 

Bersama 17 ribu pasukan Ibnu Tasyfiin bertolak menuju Andalus dengan menyeberangi selat Gibraltar. Setibanya di Andalus dia menempatkan 5 ribu pasukan di Algeciras sebagai pasukan jaga yang diperlukan bila pasukan dipukul mundur. Sementara 12 ribu pasukan lainnya ikut ke medan tempur bersamanya. Akhirnya terkumpullah 30.000 pasukan muslim hasi koalisi dari Daulah Murabithin, Granada, Kordova dan Badajoz. Dibawah pimpinan Ibnu Tasyfiin pasukan bergerak menuju Sevilla. Saat itu camp pasukan salibis hanya berjarak 3 mil dari camp pasukan muslim.

Sebelum memutuskan untuk perang, Ibnu Tasyfin terlebi dahulu mengirimkan surat kepada Alfonso VI. Dalam suratnya Ibnu Tasyfin berkata: 

"Aku mendengar bahwa anda berdoa supaya dianugerahi kapal-kapal yang banyak agar bisa menyeberangi lautan demi menuju daerah kami. Kini kami datang kepadamu, dan engkau akan tahu sendiri akibat dari do'amu itu. Dan aku wahai Alfonso menawarkan beberapa opsi padamu, masuk islam, membayar Jizyah atau perang.? Saya beri anda waktu tiga hari".

Alfonso VI menjawab:

"Aku memilih perang, apa jawabmu.?"

Ibnu Tasyfin membalikkan surat tersebut dan menulis balasannya di kertas yang sama, 

"Jawabannya adalah apa yang akan kau lihat dengan mata kepalamu nanti, bukan apa yang kau dengar dengar telingamu, keselamatanlah bagi yang mengikuti petunjuk"


Alfonso kembali membalasnya, namun dengan bahsa yang penuh makar, "Besok adalah hari jumat, hari rayanya orang islam dan kami tidak ingin berperang pada hari rayanya orang islam. Sabtu adalah hari raya orang Yahudi sementara dalam pasukan kami banyak prajurit Yahudi. Adapun hari ahad adalah hari raya kami, bagaimana kalau peperangnya kita tunda hingga hari senin..?


Ibnu Tasyfin menangkap adanya makar dalam surat Alfonso. Dipersiapkannlah prajurit sebagaimana rencana awal.
 

Pada malam harinya, yaitu pada malam jumat 12 rajab 479 H, Imam Al-Faqih Ahmad bin Rumaylah Al-Qurthuby yang turut ikut dalam peperangan bermimpi bertemu Rasulullah. Dalam mimpinya Rasulullah berkata: "Kalian pasti menang, dan engkau akan bertemu denganku".

Ibnu Rumaylah terbangun, hatinya dipenuhi rasa gembira. Mimpi itu dikabarkan kepada seluruh komandan perang. Semua digemparkan oleh berita tersebut. Seluruh pasukan dibangunkan. Dengan gagah Ibnu Tasyfin memerintahkan prajurit untuk membaca surah Al-Anfal. Para khatib diperintahkan untuk mengobarkan semangat jihad. Sambil keluar masuk barisan prajurit Ibnu Tasyfin mengatakan dengan suara yang lantang, "Berbahagialah orang yang meraih syahid. Siapa yang hidup, maka baginya pahala dari Allah dan ghanimah".

Hari itu bumi Andalus menyaksikan semangat jihad dan ghiroh yang luar biasa memenuhi dada kaum muslimin. Para pemimpin bersatu di bawah kalimat yang sama "La ilaha illallah".
Dugaan Ibnu Tasyfin terbukti, ternyata benar Alfonso ingin berbuat makar, dia ingin menyerang pasukan muslim secara tiba-tiba. Namun semua diluar dugaan Alfonso, karena pasukan muslimin telah bersiap-siap menghadapi serangan lawan kapan saja.

Sebelumnya pasukan muslimin telah dibagi menjadi tiga faksi:
 
Faksi pertama: Faksi andalus yang dipimpin oleh Al-Mu'tamad Allallah dengan jumlah pasukan 15.000 personil. Pasukan ini berada di garda terdepan.
 
Faksi kedua: Faksi campuran antara pasukan Andalus dan Maroko yang dipimpin oleh Daud bin Aisyah, panglima asal Maroko dengan jumlah pasukan 1100 personil. Pasukan ini berada pada barisan kedua.
 
Faksi ketiga: Faksi cadang yang sebagian besarnya adalah prajurit Maroko yang dipimpin langsung oleh Ibnu Tasyfiin. Jumlahnya sebanyak 400 personil. 

Ditanah lapang yang hijau inilah peperangan itu dimulai. Alfonso dan pasukannya mendapat perlawan yang sengit dari faksi pertama pasukan muslim. Perang yang terus berkecamuk hingga waktu ashar membuat masing-masing pihak kewalahan, akhirnya Ibnu Tasyfiin melepaskan prajurit pimpinannya menuju medan pertempuran. Tambahan personil itu membuat pasukan muslim kembali kuat. Ibnu Tasyfiin dan sebagian pasukan membakar camp pasukan salibis, kobaran api yang menghanguskan camp rupanya membuat salibis panik. Konsentrasi mereka terpecah, mereka dihadapkan pada pilihan antara menjaga camp atau menghadapi pasukan kaum muslimin. Akhirnya Alfonso dan prjuritnya berhasil dikepung, dan dengan izin Allah kemenangan diraih oleh kaum muslimin. Dan sebagaimana mimpinya, Ibnu Rumaylah gugur dalam pertempuran tersebut. 

Dari 100 ribu pasukan salibis yang ikut peperangan, hanya tersisa 450 pasukan berkuda. Alfonso yang kehilangan kakinya kembali bersama sisa pasukan yang kesemuanya dalam keadaan terluka. Dari 450 pasukan tersebut, hanya 100 pasukan berkuda yang selamat hingga Toledo. Pasukan lainnya mati dalam perjalanan pulang.

Sebuah kemenangan yang luar biasa.

(Disarikan dari Qisshatul Andalus)

Catatan:

Untuk kesekian kalinya kita belajar tentang izzah.
Bahwa kekuatan kita ada dalam persatuan. Tentunya persatuan diatas akidah yang sahih.  

_____________
Madinah 12 Rajab 1436 H
ACT El-Gharantaly

SEPENGGAL KISAH DI BAWAH LANGIT KOREA

"Akhirnya Ibuku Memeluk Islam"

Aku telah memeluk Islam sejak empat tahun yang lalu di Korea. Dan saat ini aku sedang menempuh studi di negara arab. Alhamdulillah, hanya saja aku menghadapi berbagai problem belajar, karena sebelumnya aku belum pernah belajar bahasa arab . Aku tidak bisa memahami apapun di dalam kelas, ditambah lagi aku tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa arab, karena itulah aku belajar dengan sungguh-sungguh.
Semua upaya telah kulakukan, tapi masih saja aku dihadapkan dengan berbagai problem saat mempelajari beberapa hal dalam waktu yang singkat.


Aku terus berdoa kepada Allah, agar Dia menambahkan ilmu padaku, supaya aku bisa memahami bahasa arab dan hal-hal yang berhubungan dengan islam. Karena bagiku ini sangat sulit, namun setelah itu semua jadi lebih baik. Alhamdulillah.


Aku telah mempelajari bahwa berbakti pada kedua orangtua merupakan hal yang sangat ditekankan dalam islam, meskipun keduanya tidak beragama islam. Untuk itu kuputuskan berangkat menuju Korea saat masa liburan. Aku mengunjungi Ibuku, setelah itu barulah aku mengunjungi Ayahku yang tinggal jauh dari Seol. Ayah dan ibu pisah sejak aku duduk di bangku SMA.

Dalam kunjunganku, aku berusaha menjelaskan pada mereka tentang segala hal yang berhubungan dengan Islam. Aku bacakan pada mereka beberapa ayat Al-Qur'an dan sejumlah buku-buku islam. Ketika aku menjelaskan, Ayahku sama sekali tak marah sebagaimana dulu, dia menyimak dengan baik penjelasanku tentang islam. Hanya saja usianya sudah tua, dan dia sangat teguh agama kristen. Karena itu sulit baginya memeluk Islam.

Adapun ibuku, dia melihat aku telah banyak berubah setelah memeluk islam, baginya kondisiku saat ini jauh lebih baik dari kondisiku yang dulu. Karena itu dia memutuskan untuk memeluk islam, sebab ia yakin bahwa islam adalah agama yang benar. Aku langsung saja membawanya ke masjid Jianjo, disana dia dibantu oleh imam masjid untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dihadapan kaum muslimin. Alhamdulillah. Oh iya, Imam Masjid itu adalah orang yang baik, usianya sudah tua, dia datang dari Suriah.

Sebelumnya aku tak menyangka bahwa ibuku akan memeluk Islam. Tapi semua adalah kehendak Allah, Dialah yang berhak memberi hidayah pada siapa yang Dia inginkan. Setelah itu aku menemani ibuku mengunjungi beberapa tempat, agar aku dapat membuatnya bahagia. Aku mengajarinya tata cara sholat dan membaca Al-Qur'an. Kuhabiskan libur musim panasku dengan semua kegiatan itu. Aku sangat bahagia karena aku telah melakukan apa yang aku bisa dalam rangka berbakti pada ibu bapakku, sebagaimana yang diperintahkan Allah. Alhamdulillah

Sekembaliku di negara arab aku terus menjalin komunikasi dengan orangtuaku melalui telpon. Aku selalu berdoa untuk keluarga dan seluruh rakyat Korea, karena banyak warga Korea tidak mengetahui apapun soal Islam. Padahal mereka patut tau soal islam, Aku berdoa pada Allah agar mereka diberi hidayah, dan supaya islam tersebar disana.

Aku juga meminta agar diberi kesabaran, supaya aku bisa belajar dengan baik sehingga dapat menunaikan tugas dakwah di masa yang akan datang.
Amiin


Abdullah Park Al-Kuriy


Catatan:

Saya terharu saat membaca tulisan ini. Masih segar dalam ingatan saya saat pertama kali bertemu dengannya dulu. Waktu itu dia sama sekali tidak bisa berbahasa arab. Tapi lihatlah, kini dia menulis kisahnya dengan bahasa arab yang cukup baik. Meskipun ada beberapa susunan kata yang perlu diperbaiki. Itu wajar bila dibandingkan dengan kita yang lahir dalam keadaan islam namun masih tidak bisa membaca Al-Qur'an dengan baik.

“Jika kamu berpaling (dari agama), niscaya Dia (Allah) akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu” (QS: Muhammad ayat: 38)

Versi arabnya bisa dilihat disini: http://abdullahkorean.blogspot.com/2014/02/blog-post_88.html
Selamat mengambil ibroh
_______________________
Madinah 14 Rajab 1436 Hari
ACT El-Gharantaly

Samstag, 2. Mai 2015

Menemani Rasulullah di Surga

Setelah sempat bingung mau berbagi tentang apa, saya akhirnya menemukan sebuah artikel yang super-duper keren. Artikel tersebut disusun dalam bahasa arab dengan judul Murafaqah Rasulillah shallahu 'alaihi wa sallam fil jannah, bagi sahabat ingin yang ingin melihat teks aslinya dalam bahasa arab langsung saja ke TKP disini.
Kalau kita artikan, artikel tersebut berjudul "Menemani Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam di Surga". Wuiiih, sebagai umat yang mencintai dan berusaha meneladani beliau tentunya kita berharap bisa bertemu dan menemaninya di surga.



Nah, apa saja sebab-sebab yang dapat mewujudkan harapan tersebut ?
Ada banyak, diantaranya :

 
Meneladani dan Mentaati Rasulullah
 
Disebutkan di dalam mu'jam al-kabir karya At-Thabrani dari Ibnu Abbas rodhiyallahu 'anhuma bahwa seorang laki-laki datang menemui Nabi shallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku sungguh mencintaimu sampai-sampai aku selalu mengingatmu, kalaulah aku tidak datang dan melihatmu seakan-akan jiwaku akan keluar. Kemudian aku teringat kalaupun aku masuk surga aku akan berada pada kedudukan yang lebih rendah darimu dan itu memberatkanku, aku ingin bersamamu". Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam tidak memberi jawaban apa-apa, lalu turunlah firman Allah 'azza wa jalla : 

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ}}

"Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul maka mereka bersama orang-orang yang Allah beri kenikmatan" (An-Nisa' : 69)

Kemudian Rasulullah mendoakannya dan membacakannya ayat tadi.
 
Mencintai Nabi 

Di dalam As-Shahihain, dari Anas rodhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallahu 'alaihi wa sallam tentang kiamat, ia berkata,"Kapankah kiamat itu?" Nabi balas bertanya kepadanya,"Apa yang sudah engkau persiapkan untuknya?" lelaki tadi menjawab, "Tidak ada selain aku sungguh sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya" "Engkau bersama siapa yang engkau cintai". Anas berkata,"Kami belum pernah sebahagia tatkala Nabi mengatakan engkau bersama siapa yang engkau cintai , maka aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap bersama mereka dengan cintaku kepada mereka meskipun aku belum beramal seperti amalan mereka".

Orang yang mendapatkan keutamaan ini haruslah orang yang mencintai beliau shallahu 'alaihi wa sallam secara tulus, yang menempuh jalannya, mengikuti jejaknya, dan mengambil petunjuknya. Tidakkah Anda melihat kalau kaum Yahudi dan Nashrani mencintai nabi-nabi mereka tapi tidak akan diberi kesempatan untuk bersama mereka dikarenakan penyelisihan yang mereka lakukan.

Apakah ada yang ragu tentang bagaimana cintanya Abu Thalib kepada Nabi shallahu 'alaihi wa sallam ? Dia senantiasa bersama dan melindungi nabi dari gangguan Quraisy, tetapi kenapa Allah membedakan tempat mereka berdua di akhirat ? Tidak lain karena Abu Thalib tidak mengikuti Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Jadi seseorang bersama siapa yang ia cintai, dengan syarat harus mengikuti jalan orang yang ia cintai, agar cinta tersebut tidak hanya sekedar pengakuan.
   
Memperbanyak Sholat
 
Di Dalam Shahih Muslim, Rabi'ah bin Ka'ab Al-Aslami rodhiyallahu 'anhu berkata,"Aku pernah menginap bersama Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam, aku menyediakan wudhu dan keperluan-keperluan beliau, beliau berkata kepadaku,"Mintalah sesuatu". Aku menjawab,"Aku meminta agar dapat menemanimu di surga". Rasullullah bertanya, "Adakah permintaan selain itu?" "Aku hanya ingin itu" jawabnya. Maka beliau bersabda: "Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu itu dengan memperbanyak sujud (sholat)".

 
Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,"Jika anda ingin mengetahui tingkatan himmah (tekad), lihatlah himmah Rabi'ah bin Ka'ab Al-Aslami. Rasulullah berkata kepadanya mintalah dan ia menjawab aku meminta agar menemanimu di surga. Orang selain dia pastilah meminta apa yang bisa mengisi perut dan menutupi kulitnya"

Hadits ini mengindikasikan bahwa untuk dapat menemani Nabi shallahu 'alaihi wa sallam tidak bisa diraih dengan berangan-angan, akan tetapi harus dibarengai dengan amalan yang nyata. Adapun makna "aku meminta agar dapat menemanimu di surga" adalah mintakan dan doakan untukku hal itu, karena seperti yang telah diketahui bahwa nabi tidak memiliki otoritas untuk memasukkan seorangpun ke dalam surga.

 
Berakhlak Mulia
 
Di dalam Sunan At-Tirmidzi, dari Jabir rodhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah oarang yang paling baik akhlaknya diantara kalian. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah ats-tsartsaarun (orang-orang yang banyak omong), al-mutasyaddiqun (orang-orang yang bicara tanpa teliti) dan al-mutafaihiqun" Para sahabat berkata,"Wahai Rasulullah kami telah mengetaui siapa itu ats-tsartsaarun dan al-mutasyaddiqun, tapi siapakah al-mutafaihiqun ? " "Orang-orang yang sombong"

Makna orang yang paling dekat tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah di surga, karena surga adalah negeri rehat dan tempat menetap, adapun mauqif di padang mahsyar maka semua manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.

 
Besholawat kepada Rasulullah
 
Dari Abdullah bin Mas'ud rodhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Orang yang paling utama disisiku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bersholawat atasku" (HR Tirmidzi)

Al-Munawy rohimahullah menjelaskan,"Orang yang paling utama disisiku pada hari kiamat artinya adalah yang paling dekat denganku, yang paling berhak atas syafaatku serta yang paling berhak mendapat curahan beragam kebaikan serta dilindungi dari berbagai hal yang tidak dinginkan"

 
Merawat Anak Yatim
 
Berbuat baik kepada anak-anak yatim merupakan salah saru sebab menggapai surga yang tertinggi, di dalam As-Shahihain dari Sahl bin Sa'd rodhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Saya dan perawat anak yatim di surga seperti ini" (Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah kemudian meregangkannya)
An-Nawawy rohimahullah menjelaskan,"perawat anak yatim: yang mengurusi keperluan-keperluannya".
Dalam penjelasannya Ibnu Baththol rohimahullah mengatakan,"Sudah semestinya bagi siapa saja yang mendengarkan hadits ini untuk mengamalkannya, agar menjadi pendamping nabi di surga, dan tidak ada kedudukan yang lebih baik dari itu".
 
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallahu 'anhu beliau berkata, Rasulullah bersabda,"Perawat anak yatim miliknya atau orang lain, saya dan dia seperti ini di surga".
An-Nawawi rohimahullah menjelaskan,"anak yatim miliknya atau orang lain maksudnya : kerabatnya ataupun bukan siapa-siapanya, kerabat dengan arti yang merawatnya (si anak yatim) adalah seperti ibunya, kakeknya, saudaranya,atau selain mereka yang masih termasuk karib kerabatnya, wallahu a'lam".

 
Mendidik Anak-Anak Wanita
 

Di dalam Adabul Mufrad milik Imam Bukhori dari Anas rodhiyallahu 'anhu, Nabi shallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Barangsiapa yang memelihara 2 anak perempuan sampai dewasa, saya dan dia masuk surga seperti ini". Muhammad bin AbdulAziz mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah.

Di dalam Mushonnaf ibn Abi Syaibah, beliau bersabda,"Barangsiapa yang memiliki 2 saudari atau 2 anak perempuan kemudian dia berbuat baik selama keduanya bersamanya, saya dan dia di dalam surga seperti ini". Beliau menunjukkan 2 jarinya.

Dari Abu Sa'id Al-Khudri, Rasulullah bersabda,"Barangsiapa yang memiliki 3 anak perempuan atau 3 saudari atau 2 anak perempuan atau 2 saudari kemudian dia berbuat baik selama bersama mereka, bertakwa kepada Allah terhadap mereka, maka baginya surga". (HR Tirmidzi dan Abu Daud)
Dan di dalam lafadz Abu Daud,"Kemudian dia mendidik, merawat dan menikahkan mereka, maka baginya surga".

 
Berdo'a
 
Dalilnya, hadits Robi'ah yang meminta Nabi shallahu 'alaihi wa sallam untuk memohonkannya menemani Beliau di surga.
Di dalam Musnad Ahmad, dari ibnu Mas'ud rodhiyallahu 'anhu, dia berkata,"Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam masuk masjid dan beliau berada di antara Abu Bakar dan Umar, tiba-tiba beliau melihat ibnu Mas'ud yang sedang sholat, dia membaca surah An-Nisa',setelah menyelesaikan 100 ayat, ibnu Mas'ud berdoa sambil berdiri (masih di dalam sholatnya), maka Nabi bersabda,"Mintalah maka engkau akan diberi, mintalah maka engkau akan diberi". Kemudian Beliau berkata,"Barangsiapa yang ingin menghafal Al-Qur'an sebagaimana diturunkan, maka bacalah dengan bacaan ibnu ummi abd". Pagi harinya Abu Bakar bergegas menemui ibnu Mas'ud untuk memberitahukannya kabar gembira, Abu Bakar berkata padanya,"Apa yang kau minta kepada Allah tadi malam ?" Ibnu Mas'ud menjawab,"Ya Allah aku meminta kepada-Mu keimanan yang tak berbalik, kenikmatan yang tidak akan sirna, dan menemani Muhammad di surga kekal yang tertinggi". Kemudian Umar datang dan dikatakan padanya,"Sesungguhnya Abu Bakar telah mendahuluimu". Ia berkata,"Semoga Allah merahmati Abu Bakar, tidaklah aku mengejar sebuah kebaikan pun melainkan Abu Bakar telah mendahuluiku".


Sekian.

Pertanyaan:
Apakah makna  menemani nabi shallallahu alaihi wasallam berarti berada dalam derajat yang sama dalam surga..?

Jawabannya tentu tidak. Di dalam sebuah hadits Rasullah -shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
 
“Apabila kamu sekalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, kemudian bacalah shalawat kepadaku. Karena barangsiapa membaca shatawat untukku satu kali, maka Alloh membalasnya dengan sepuluh shalawat. Lalu mintakanlah kepada Allah Wasilah untukku. Wasilah adalah sebuah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi hamba Alloh dan aku berharap agar aku adalah hamba Allh tersebut. Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia mendapat syafaatku” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa derajad tertinggi dalam surga hanya untuk Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam. Adapun mengenai permintaan Rabiah kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam, “Aku ingin menemanimu di surga” Para ulama menjelaskan maksudnya adalah dekat dengan nabi -shallallahu alahi wasallam-, bisa selalu melihatnya kapan saja, namu tidak berarti berada dalam satu derajat yang sama dengannya –shallallahu alaihi wasallam-.

Semoga Allah mengaruniakan pada kita nikmat hidup bersama nabi –shallallahu alaihi wasallam- di dalam surga-Nya.

Amiin

____________
Madinah  13 Rajab 1436 H
Alih bahasa: Sami Himma (A. Rinanda)
Editor: ACT El-Gharantaly

Dienstag, 28. April 2015

SEKEDAR PIKIRAN BANDING

Tidak semua yang kita tahu harus diketahui orang lain.
Iya, tentunya kita masih ingat perintah Rasulullah kepada Mu'adz -radhiallahu anhu- untuk tidak menyampaikan kepada manusia soal hadiitsul huquuq.
Dari sini para ulama menyimpulkan bahwa ada sebagian ilmu yg memang perlu ditunda penyampaiannya kepada objek dakwah karena alasan maslahat tertentu.
Ada baiknya saat menuliskan status yg mengandung muatan masaalah serta isu yang berhubungan dengan person atau kelompok tertentu kita harus extra hati-hati.
Sebab tidak semua isu harus ditanggapi... Dan jika memang harus ditanggapi, maka tidak semua harus memberikan tanggapan. Biarkan ahlinya yang menanggapi.

Secara pribada saya turut prihatin dengan sebagian ikhwah yang kadang tergesa-gesa dalam memberikan opini, komentar, atau pernyataan ini dan itu terhadap berbagai isu keummatan tanpa mempertimbangkan maslahat dan mudhorot yg ditimbulkan.
Sebagai contoh:
Ada orang yg sangat bersemangat menjelaskan kesesatan syi'ah, namun secara tak sadar dia telah mempromosikan pemahaman Syi'ah pada masyarakat awam yg samasekali tidak tau menahu apalagi mengerti so'al syi'ah.
Padahal, jika memang tujuannya untuk membentengi umat, mengapa kita tidak mengajari mereka tentang keutamaan Sahabat dan kedudukan Ummahaatul mu'minin atau hak-hak alul bayt secara rinci.
Ada juga yg terlalu semangat dalam menjelaskan ideologi extrimis khawaarij, namun tanpa sadar jatuh dalam perangkap yang sama. Dan juga tanpa sadar, secara langsung atau tidak langsung telah turut memberi andil dalam menyebarkan pemikiran yang serupa. Hal ini bisa dengan menyebutkan kekaguman terhadap tokoh mereka, atau menyebutkan situs-situs mereka yg sebelumnya tidak diketahui mayoritas salafy awam.
Akhirnya kitapun disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang timbul akibat bacaan-bacaan liar itu. Sementara syubhat yg terlihat kecil dimata sebagian kita, bisa jadi terlihat besar dimata salafy awam yg baru ngaji.
Di tempat lain ada yg menghiasi statusnya dengan cacian dan sumpah serapah sebagai wujud penolakan terhadap individu atau kelompok yang sesat. Padahal masaalah melabeli orang dengan kesesatan dan kebid'ahan merupakan persoalan ilmiah.
Walaupun kebencian kita merupakan sesuatu yg fithrawi, tidak berarti kita harus rela kehilangan sikap ilmiah saat merespon berbagai isu tersebut.
Ikhwah fillah...
Perhatikan siapa teman fb-mu...
Mereka mungkin tak sepertimu..
Memperhatikan realitas objek dakwah merupakan qaidah terpenting dalam amar ma'ruf nahi munkar.
Ingat ikhwah fillah..
Ketergesa-gesaan akan membuat kita tampak bodoh dan malu sendiri.
Jangan sampai ketergesa-gesaan kita dalam menanggapi isu ini dan itu menyebabkan orang lain dibuat bingung terhadap agamanya.
Ingat kawan.. di alam facebook.. Anda tidak sendiri.
Saya tidak ingin orang beragama dengan pendapat saya. Jika memang ada yg salah dalam status ini tolong diluruskan, Semoga Allah merahmati orang-orang yg menghadiahkan kepada kami segala aib kami
Terakhir saya kutipkan ucapan Prof. Ibrahim Ar-Ruhaily –hafidzahullah-
"Kebenaran itu hanya butuh penjelasan yang baik.
Dia tak butuh gerak tubuh lebih yang disertai suara keras dan cacian terhadap lawan diskusi.
Bahkan sikap-sikap seperti itu hanya akan membuat orang lain antipati terhadap kebenaran yang kita sampaikan.
Saat diskusi, anda harus sadar kalau tengah berada ditempat yang membutuhkan keilmiahan dan bukan kekuatan fisik.
Imam Syafi'I berkata, "Aku tidak pernah berharap untuk menang dari lawanku saat berdiskusi. Bahkan aku berharap agar kebenaran itu mengalir dalam ucapannya lalu akupun mengikutinya"

(Syaikh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaily hafidzahullah)

ACT El Gharantaly

MENGEJAR BAYANGAN SEMU ATAU BERPALING MENUJU KEPASTIAN..?

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah mengatakan:

الدنيا كالظل لو لاحقتها تهرب منك و لو اعطيتها ظهرك تلاحقك.

Dunia itu ibarat bayangan, bila kau kejar, dia akan lari darimu. Tapi bila kau palingkan badanmu, dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu.
Apa yang dikatakan Ibnul Qoyyim diatas selaras dengan sabda nabi shallallahu alaihi wasallam berikut ini:

مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

“Siapa yang obsesi hidupnya akhirat, maka Allah akan menjadikan kekayannya berada di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah akan meletakkan kefaqiran di depan matanya, Dia akan mencerai-beraikan urusannya, sementara dunia tidak mendatanginya kecuali sebatas apa yang telah ditakdirkan baginya.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Catatan:
Begitulah... setiap potongan hidup selalu menyajikan pilihan-pilihannya sendiri.
Disini kita hanya punya dua pilihan, mengejar bayangan semu atau berbalik menuju kepastian.
Tak ada pilihan ketiga, sebab kita tak mungkin berhenti, karena dengan berhenti itu artinya kita telah memilih untuk binasa.
Teruslah melangkah maju...
Sesekali lihatlah bayang itu, karena Allah azza wa jalla berfirman:


وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (berupa kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al-Qashshash: 77)

Sebagian orang menyangka bahwa maksud ayat ini adalah anjuran untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Padahal tidak, justru ayat ini menjelaskan agar manusia sepenuhnya mencari karunia akhirat dan menjadikan dunianya sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan akhirat. Sehingga apapun pekerjaan dunia yang ditekuni seseorang -selama itu halal-, hendaknya membuat ia semakin bersemangat dalam meraih akhiratnya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh mayoritas ahli tafsir diantaranya Ibnu Abbas, Al-Qurthuby, Jalaluddin Al-Mahally dan As-Sa'dy -rahihumullah-
As-Sa’di menjelaskan “Engkau memiliki berbagai sarana untuk menggapai kebahagiaan akhirat berupa harta, dimana hal tersebut tidakdimiliki oleh orang lain selain dirimu. Maka raihlah dengan harta tersebut apa yang ada disisi Allah. Berinfaklah dengan harta itu, jangan menggunakannya sebatas untuk memenuhi kebutuhan syahwat dan berbagai kelezatan semata. "Jangan lupakan bagianmu di dunia". Maksudnya, Allah tidak memerintahkan supaya manusia menginfakkan seluruh hartanya, hingga ia terlantar. Namun infakkan dengan niat untuk kebahagiaan akhiratmu. Bersenang-senanglah dengan duniamu dengan tidak melalaikan agama sehingga membahayakan kehidupan akhiratmu.”

Kesimpulannya, tataplah akhiratmu, berjalanlah menujunya, namun jangan lupakan duniamu sebagai sarana meraihnya. Sebab Allah tak memuji mereka yang terus-menerus beribadah dan melupakan dunia, tapi Dia memuji mereka yang melakukan pekerjaan dunia namun hati mereka terpaut pada Allah.

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (QS. An-Nur:37).

Wallahu a'lam

Ya Allah,perbaikilah agama kami yang merupakan sandaran segala urusan kami. Dan perbaikilah urusan
dunia kami yang merupakan tempat tinggal kami,dan perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami. Dan jadikanlah kehidupan kami sebagai
tambahan bagi kebaikan kami dan
kematian kami sebagai tempat istirahat
dari segala kejelekan kami." (HR. Muslim)

_____________
Madinah 25-05-1436 H
ACT El Gharantaly

Samstag, 25. April 2015

14 ABAD YANG LALU DIA PERNAH MERINDUKANMU

Dialah Rasulullah…

Tepat sembilan hari menjelang wafatnya turunlah firman Allah yang berbunyi:

 وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

“ Dan peliharalah diri kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak didzalimi.” (Al Baqarah : 281)

Semenjak itu raut kesedihan mulai tampak di wajah beliau yang suci. “Aku ingin mengunjungi syuhada Uhud ujar beliau.” Beliaupun pergi menuju makam syuhada Uhud, sesampainya disana beliau mendekati makam para syhada dan berkata, “Assalamu’alaikum wahai syuhada Uhud, kalian telah mendahului kami. Insya Allah kamipun akan menyusul kalian.”

Ditengah perjalanan pulang, rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis. Para sahabat yang mendapinginya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku rindu kepada saudara-saudaraku.” Mereka berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah melihatku.”
(HR. Ahmad)


Alangkah tulus ungkapan itu..
Namun tersisa beragam tanya:
Kitakah yang dirindukan itu…?
Bila iya, Sudahkah kita merindukannya…?
Sudahkah kita beriman sehingga pantas dirindu…?
Sudahkan kita mengamalkan sunnahnya sebagai bukti cinta…?
Pantaskah diri yang lalai ini dirindukan Rasul suci yang mulia…?


Duhai.. alangkah malangnya bila yang dirindukan itu terusir dari telaga haudhnya.
Alangkah malangnya bila nanti terdengar darinya ucapan, “menjauhlah dari telagaku…”
Kau tau kenapa…? Karena mereka telah merubah-rubah Agama yang dibawanya.


Wahai insan yang dirindu….
Ikutilah jalan hidup manusia agung yang dulu pernah merindukanmu..
Jauhi segala macam bid’ah dalam agama, agar kau tak terusir dari telaganya.

Buktikan cintamu dengan ittiba’ agar cintamu tak bertepuk sebelah tangan.
Ingat selalu firman Allah azza wa jalla:
Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)
Ingat kawan…. 
Ditepi telaga haudh dia menanti kita..
“Aku akan mendahului kalian di telaga. Aku sebagai saksi atas kalian” dan sesungguhnya—demi Allah— saat ini aku sedang memandang telagaku itu” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
_______
Madinah 07-07-1436 H
ACT El-Gharantaly